LUMAYAN LAH.. Harga CPO Meningkat 5 Persen

SAMARINDA-Pada bulan kedua 2019 harga crude palm oil (CPO) harga CPO mengalami kenaikan 5 persen. Pada Januari harga CPO masih USD 530,70 per metrik ton, pada Februari menjadi USD 556,50 per metrik ton. Perbaikan harga CPO disebabkan oleh penurunan stok minyak sawit di negara-negara penghasil. Selain CPO minyak nabati lainnya juga mengalami penurunan stok yang menyebabkan harga terus membaik.

KetuaGabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) KaltimMuhammadsjah Djafar mengatakan, harga saat ini memang mengalami kenaikan. Hal itu disebabkan stok CPO yang menurun 17 persen pada Februari 2019, dibandingkan dengan Januari. Pada Januari stok CPO mencapai 3,02 juta ton, dan pada Februari 2,50 juta ton. Namun, peningkatan ini tidak diikuti kinerja yang baik.

Kinerja ekspor CPO dan produk turunanannya di Indonesia sedang mengalami penurunan. Biodiesel dan Oleochemical di Februari ini tercatat mengalami penurunan lebih dari 11 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

“Ekspor biodesel dan oleochemical dari 3,25 juta ton di Januari menurun menjadi 2,88 juta ton di Februari,” katanya Selasa (2/4).

Dia menjelaskan, penurunan volume ekspor  pada Februari merupakan hal wajar. Karena Februari memiliki hari yang lebih pendek dibandingkan Januari. Sementara itu, khusus untuk volume ekspor CPO saja, tercatat mengalami penurunan hampir mencapai 11 persen juga atau dari 3,1 juta ton di Januari terpangkas menjadi 2,77 juta ton di Februari.

“Namun, harga yang terus membaik ini tentunya menjadi angin segar meskipun kinerja ekspor menurun,” ungkapnya.

Menurutnya, selain peningkatan harga perluasan mandatori biodiesel 20 persen (B20) kepada non-PSO menunjukkan perkembangan yang sangat positif setiap bulannya. Sepanjang Februari penyerapan biodiesel di dalam negeri mencapai lebih dari 648 ribu ton, atau naik 17 persen dibandingkan dengan Januari lalu yang hanya mencapai 552 ribu ton.

“Tahun ini direncanakan B30 sehingga diharapkan secepatnya bisa terealisasi. Selain meningkatakan penggunaan CPO dalam negeri, ini juga bisa membantu pelaku usaha mengurangi kertergantungan ekspor CPO,” tuturnya.

Dia mengatakan, harga CPO saat ini terus menggeliat membaik. Namun sayangnya tantangan semakin besar. Apalagi tantangan perdagangan yang disebabkan oleh Komisi Uni Eropa yang telah mengadopsi Renewable Energi Directive II (RED II). RED II mengatur penghapusan penggunaan biodiesel berbasis sawit, karena sawit digolongkan sebagai minyak nabati beresiko tinggi terhadap deforestasi sedangkan minyak nabati lainnya digolongkan beresiko rendah.

“Diskriminasi ini masih mengahantui pelaku usaha yang masih mengekspor ke sana. Sehingga peningkatan harga pada Februari masih datang bersama tantangan untuk pengusaha kelapa sawit,” pungkasnya.

 

sumber : http://kaltim.prokal.co/read/news/354283-lumayan-lah-harga-cpo-meningkat-5-persen.html